Hi, welcome back!
Setiap pencarian jati diri dalam proses hidup, seseorang pasti keluar dari zona nyaman untuk mencoba hal dan tantangan baru
Masing-masing daerah di Indonesia
baik itu Provinsi maupun Kabupaten pasti memiliki sepasang duta wisata yang
mewakili daerahnya sebagai perpanjangan tangan Pemerintah yang dinaungi oleh
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di daerahnya. Secara singkat, apasih duta
wisata itu? Jadi, duta wisata adalah ikon pariwisata sebuah daerah yag terpilih
melalui proses seleksi guna perpanjangan tangan Pemerintah dalam upaya
mempromosikan dan memperkenalkan potensi pariwisata di daerahnya. Eh, panjang
juga ya penjelasannya hehe.
Di Kabupaten Banjarnegara tempat saya
tinggal, duta wisata disebut dengan Kakang Mbekayu. Kakang diambil dari sebutan
untuk pria dan Mbekayu sebutan untuk wanita, dimana merupakan simbol dari
budaya bahasa dan dialek masyarakat Banjarnegara (dialek panginyongan).
Berbicara tentang audisi ini, saya
seorang fresh graduate dari jurusan Biologi yang umurnya sudah agak mepet degan
batas yang ditentukan mencoba iseng-iseng untuk mendaftar. Sempat terpikirkan,
kenapa saya tidak mencobanya dari dulu saat masih SMA ya? Yaah, memang selalu
ada penyesalan di akhir, namun saya kira dulu untuk mencoba saja butuh banyak
merelakan sesuatu untuk dikorbankan, karena dulu mikir pelajaran saja sudah
cukup menguras otak dan energi dibikinnya. Memang saat bersekolah di SMA, saya
tidak banyak mengikuti kegiatan di luar sekolah, hehe. Semoga ini bisa jadi
pelajaran buat temen-temen semua, agar tidak menyesal untuk mencoba hal-hal
baru! ^^
Eits, tadi intermezzo sebentar yaa.
Sekitar empat tahun saya habiskan
waktu di perantauan untuk melanjutkan proses belajar di salah satu
Universitas di Semarang. Selama kuliah, saya bertemu banyak teman-teman dengan
latar belakang, passion, hobby dan prestasi yang berbeda-beda. Salah satu teman
saya ini berasal dari Rembang, lalu pernah main bareng dan dia mengajak
temannya yang berasal dari Rembang pula. Nah teman dari temanku ini adalah duta
wisata Kabupaten Rembang. Singkat cerita, kita mengobrol, sharing, dan diskusi bersama hingga teman-temanku ini mendorongku
agar mencoba pemilihan duta wisata di daerah tempat tinggalku, Banjarnegara.
Saya memang tertarik dengan audisi
semacam ini, namun tidak pernah terbesit niatan saya untuk mengikuti kompetisi
ini. Selain terdorong karena teman-teman tadi, saya juga suka ngomong, tertarik
mencoba hal baru dan sebagai wujud cinta akan Banjarnegara, yaaa aapa salahnya
untuk mencoba? Niat saya disini memang untuk mencari pengalaman bagaimana sih
audisi duta pariwisata itu, bagaimana ketika saya dihadapkan dengan pertanyaan
dari dewan juri yang profesional? Apakah saya berani untuk maju seperti peserta
lainnya yang mayoritas berasal dari Sekolah Mengah Atas dan atau Kejuruan, yang
notabenenya adalah jauh lebih muda dari saya.
Pembukaan pendaftaran sudah dari
hampir dua bulan yang lalu semenjak saya mengetahui informasi tersebut.
Benar-benar H-10 hari saya baru saja mengetahuinya dan itupun tanpa sengaja
saya menemukannya. Bisa dikatakan ini terlalu mendadak bagi saya yang masih
sangat newbie di dunia per-duta
wisata-an. Saya pun langsung membaca persyaratan dan lain-lainnya. Syaratnya
cukup mudah, domisili Banjarnegara, mampu berbahasa jawa, indonesia dan inggris
dan berwawasan luas tentang kepariwisataan. Mungkin, kalau hal terakhir ini
bisa dipelajari, namun butuh waktu yang cukup, apalagi mengenai pariwisata di
Banjarnegara. Wah saya ini memang jarang sekali jalan-jalan ke daerahnya
sendiri. Untuk tinggi badan minimal 160 cm untuk wanita, ya aku cukup percaya
diri kalau ini.
Setelah aku memenuhi segala
persyaratan pendaftaran, saya mengumpulkan berkasnya ke Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata, tepatnya berada di samping Kebun Binatang Serulingmas Banjarnegara.
Tiga hari kemudian saya mengikuti
Ikamura Class yaitu talkshow tentang tips
and trick menjadi duta wisata yang diselenggarakan oleh Ikatan Paguyuban
Kakang Mbekayu Banjarnegara. Saya menggali ilmu sebanyak-banyaknya disitu dan
saling kenal mengenal dengan Kakang Mbekayu tahun sebelumnya serta teman-teman
pendaftar lain. Seminggu kemudian, waktu audisi telah tiba. Pukul 07.30 WIB
diharuskan sudah datang di lokasi. Untuk audisi ada dua pos, yaitu pos
interview dengan 3 juri dari orang-orang Dinas, dan pos diskusi dengan
Kakang-kakang senior. Di pertengahan waktu menunggu antara interview dan
diskusi, ada tes tertulis yaitu menulis essai tentang salah satu tempat wisata
di Banjarnegara yang mencakup Sapta Pesona dan 4A konsep pariwisata.
Interview
Sebelum audisi, panitia sudah
menyampaikan bahwa saat interview harus menampilkan bakat. Saya mempersiapkan
akan menampilkan bakat menyanyi diertai dengan improvisasi menari. Namun saat
interview, saya tidak diminta menampilkan bakat, begitupun ada beberapa teman
saya yang seperti saya, ada juga yang menampilkan bakatnya. Pertanyannya cukup
simpel, mungkin tidak ada lima menit saya berdiri di ruangan tersebut merasakan
grogi dan tegangnya menghadapi beliau juri-juri profesional ini. “Apa motivasi
anda, apa yang sudah dipersiapkan, dan apa harapan kedepan untuk duta wisata
ini?” intinya pertanyaannya semacam itu. Mudah dimengerti memang. Namun,
pertanyaan hanyalah pertanyaan. Untuk menjawabnya saja butuh kepercayaan diri
rasa niat yang ekstra. Mau kamu sudah siapin jawaban-jawaban itu dengan baik,
kamu akan merasa ngeblank ketika mersa nervous di hadapan para juri. Pertanyaan
terakhir saya diminta untuk menejelaskan tempat wisata: Curug Pitu, di dekat
rumahku, dengan bahasa inggris. Oh My God! Aku sudah merencanakannya tentang hal
apa saja yang akan saya sampaikan. Tapi ternyata……….. betul-betul ngeblank.
Kosakata yang sudah saya rekam di otak saya semuanya luluh lantah pergi berlari
entah kemana. Yang diakibatkan tatapan dewan juri ini juga sangat menegangkan.
Ya sudah, waktu berlalu.
Diskusi
Setelah menunggu antri diskusi yang sangat
panjang, akhirnya saya dipanggil untuk diskusi setelah maghrib. Yaa betul-betul
sampai malem. Saya bersama 5 teman yang lain memasuki ruang diskusi dan bertemu
dengan kakang-kakang senior, Kita diminta perkenalan menggunakan bahasa
inggris, kemudian diberi beberapa studi kasus dan kita diminta untuk memberikan
pendapat. Untuk sesi ini, peserta disuruh duduk berhadapan dengan juri-juri
yang masih muda, yaa saya benar-benar menikmatinya dan bisa mikir kira-kira
nanti bagaimana saya akan menjawab pertanyaan mereka. Kurang lebih sesi ini
menghabisan waktu 25 menit.
Akhirnya, dua hari kemudian
pengumuman tiba, dan saya tidak lolos 15 besar mbekayu. Saya bersyukur dan
mengevaluasi diri. Saya juga sampai menghubungi salah satu juri, menanyakan
kekurangan saya di bagian apa sehingga bisa untuk pembelajaran ke depannya. Saya
mendapatkan pengalaman dan ilmu yang bermanfaat serta mendapatkan teman-teman
baru pastinya. Yang pasti, tidak ada hal yang sia-sia dalam kesempatan ini,
begitupun tidak rugi untuk mencoba.
Saya percaya, “saya akan menjadi apa yang saya usahakan”.
Kilas balik sejenak mengingat bahwa saya mendaftar duta wisata
ini sangatlah mendadak (dengan niat saya mencari pengalaman baru, dan tidak berharap
untuk lolos) dan baru belajar materi h-1 audisi.
Semoga cerita ini dapat mengisnpirasi
kalian wahai pembaca, bahwa “sebuah penyesalan adalah ketika kamu tidak pernah
mencoba, segala hal sudah digariskan untuk berhasil dan gagal. Jika berhasil
tetap membumi, jika gagal lakukan evaluasi dan kibarkan bendera semangat juang
lebih tinggi lagi”. Pepatah mengatakan mundur selangkah ke belakang untuk
mengambil seribu langkah ke depan.
And finally, reminder for my self:
totalitaslah dalam berjuang, karena disana takkan ada kesempatan yang sama! ^^
See you, bye!
Alvita


0 comments:
Posting Komentar