“Telolet… telolet…telolet…”, suara
handphone Surti berdering tepat pukul 23.00.
Sari
yang sedang mengerjakan tugas ilmu politik pun merasa terganggu.
“Oh
my God, ada apasih Tuti menelepon malam-malam, mengganggu saja lagi ngerjain
tugas juga”, gumam Surti.
“Haloo Surti, besok ke perpustakaan yuk
cari referensi, daritadi aku kerjain tugas makalah ilmu politik gak nemu-nemu
ide nih”, sapa Tuti dengan gaya medok dan ngomong cepetnya.
“Boleh-boleh, ajakin Sari sekalian ya,
aku juga lagi nih butut ide, apalagi pas kamu nelpon, buat kaget saja huff”,
balasnya.
“hehehe, sory… okedeh see you ya mwah.”
Tuti menutup teleponnya dengan mesra.
***
Hari ini hari Senin, sekitar pukul
10.00, Surti, Sari dan Tuti tidak ada jadwal kuliah, menuju ke perpustakaan.
Mereka adalah mahasiswa jurusan Politik tingkat I. Mereka berteman sejak duduk
di bangku Sekolah Dasar hingga sekarang. Mereka terkena gadis yang periang
namun cerdas dan pintar, walaupun mereka suka klayaban sana-sini, nongkrong di warung
makan sana-sini hanya demi tugas dan mengobrol.
“Syuuut… ini perpustakaan ya Mbak, bukan
kafe”, salah satu petugas perpustakaan menyuruh mereka untuk diam untuk
kesekian kalinya. Mereka memang sedang membaca dan mengerjakan tugas tetapi
disambil dengan mengobrol. Mereka langsung tertawa pelan. Surti hendak meminjam
buku, lalu menuju ke operator dan mengeluarkan kartu perpustakaan, disusul yang
lain.
“Mbak, ini ada kartu perpustakaan punya
mahasiswa yang tertinggal tolong balikin ya,” kata salah satu petugas
perpustakaan.
“Loh.. Bu tapi kami beda tingkat, nanti
susah balikinnya”, protes Surti.
“Ya tapi disitu kalian sejurusan dan
disitu ada nomor yang bisa dihubungi”, kata petugas.
“Oh iya baik bu,” Surti menunduk.
***
“tut..tut..”, suara hp Agus
berdering. Ada sms ternyata dari nomor yang tidak dikenal.
“Hai, slmt siang, ini dengan mas
Agus Caraka jur Politik tkt II? Maaf sy Surti jur Politik tkt I mau mngmblkn
kartu perpusta titipan dr petugas perpus tadi”, tulisan sms Surti.
Kemudian Agus yang sedang bersantai
di depan TV di rumahnya karena tidak ada jadwal kuliah langsung membalas sms
Sari.
“Iya benar, oh iya tadi saya
kelupaan, ketemu di lorong depan ruang A1 ya jam 2 siang,”
Surti tak membalas sms Agus lagi.
Seperti biasa, Surti, Sari dan Tuti sepulang dari kampus selalu kumpul di
kostan Sari. Mereka sedang asyik menonton film tiba-tiba jam sudah menunjukkan
pukul 2 siang.
“Eh aku ada janji jam 2 siang, ayoo
buruu temenin aku”, ucap Surti panik.
Mereka langsung menuju kampus dengan
sepeda motornya, karena Surti tidak membawa motor maka ia menebengi Sari. Surti
termasuk gadis yang sederhana dari Desa, lugu nan cantik. Siapa sih yang tidak
mengenalnya. Sedangkan Sari anak orang kaya dengan barang-barangnya yang
bermerek. Berbeda dengan Tuti yang anaknya juragan di desa namun penampilannya
biasa saja.
Sesampai dikampus, mereka langsung
menuju ke lorong depan ruang A1, tempat Surti dan Agus janjian. Disana rupanya
sudah ada Agus dan teman-temannya, Joko dan Aji. Surti tertegun kaget lalu menyapa
mereka dan membuka tasnya untuk mengambil kartu perpustakaan milik Agus dan
mengembalikannya. Sari dan Tuti melihatnya sambil senyum-senyum tipis.
“Makasih ya Surti, eh kalian habis ini
mau kemana?”, tanya Agus.
“Sama-sama, ini mau makan mas,”
balas Surti tersenyum manis. “Kalo gitu bareng aja yuk, makan di warung Bu Dewi
didepan situ. Eh kenalin ini Joko dan Aji,” balas Agus.
Surti melirik Sari dan Tuti. Sari
dan Tuti berkedip. “Boleh mas,” balas Sari.
Siapa si yang gak kenal dengan mas Agus,
terkenal dengan kharismanya namun tampangnya biasa saja. Batin Surti
mengatakan. Ternyata Agus lah yang selama ini dia sukai, ya walaupun hanya
sekedar ngefans saja karena dia kapten basket.
Kemudian mereka jalan ke tempat makan
sambil berkenalan dan bercerita satu sama lain. Mereka makan dan mengobrol lama
di warung Bu Dewi sampai-sampai hampir diusir karena warung akan tutup jam 5
sore.
***
Sudah 3 bulan mereka dekat. Antara Agus
dan Surti, Joko dan Tuti begitupun Sari dan Aji. Mereka sering belajar bersama,
nongkrong di warung, hingga hangout foto bersama. Agus memang anak orang kaya,
selain basket dia juga nemiliki hobi memfoto. Hal ini sangat berbeda dengan
Surti yang dari Desa kuliah di Kota, punya handphone saja hanya bisa buat sms.
Namun Surti sangat beryukur teman-temannya mau menerima Ia apa adanya dan Ia
bisa mudah bergaul dengan siapapun. Surti juga selalu sadar bahwa ia menyukai
seorang pria kaya, yaitu mas Agus. Kedekatannya dengan Agus kini semakin dekat.
Saat makan bareng di warung Bu Dewi,
favorit mereka Agus menyeletuk “kok kamu sukanya makan sama lauk tempe mulu sih
Sur,”. “hehe iya mas, enak murah dan bergizi,” balas Surti. Agus meringis
tipis, “enak juga tapi gak tiap hari juga kali. Surti.. Surti..” seraya Agus
menggelengkan kepalanya “Ohya, datang ya gengs besok di perayaan hari ulang
tahunku tanggal 31 Desember sekalian ngerayain tahun baru bareng, kita bakal
pesta asik gitu”.
“Jam berapa bro? siap deh asalkan siapin
lagu yang asoy buat goyangin badan hahaha” Joko bertanya.
“Dateng aja jam setengah 8 apa jam 8
kek, pestanya mulai jam 9 bro. Wah kalo lagu itu siap deh, kemarin udah aku
minta sama event organizernya buat bikin yang special. Ohya, untuk dresscodenya bebas ya terserah kalian,
dandan yang rapi yang cantik sama jangan lupa Joko Aji mandi tuh hahaha” Agus
tertawa seraya diikuti yang lain.
“Wah parah bro buka aib nih hahahah” Aji
membalasnya.
***
31 Desember 2016 pukul 20.00
Aji dan Joko sudah berada di rumah Agus.
Sementara Sari dan Tuti masih menyiapkan pakaian yang akan mereka kenakan.
Berbeda dengan Surti, Ia masih berada di kafe tempatnya bekerja part time.
Surti memang baru mulai bekerja beberapa hari ini dan kedua temannya, Sari dan
Tuti sudah mengetahuinya.
“Telolet… telolet… telolet…” hp
Surti berdering, ada panggilan dari Sari.
“Halo Sar, aku kayaknya nyusul ya
sekitar jam 10 soalnya ini masih di kafe belum bisa ditinggal” kata Surti.
“Yaelah Sur, kabarin daritadi napa.
Ntar kamu naik taxi aja biar aman. Hati-hati yaa kita tunggu” balas Sari.
“Oke deh Sari Tuti, see you!” Surti
menutup teleponnya.
Surti pulang dari kafe pukul 9
malam, Ia panik karena belum menyiapkan baju yang akan Ia pakai ke pestanya
Agus. Akhirnya Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu dan melihat gaun pendek
lengan panjang dengan motif belang-belang, sepertinya cocok untuk pesta. Surti
bernafas lega. Lalu Ia memesan gojek karena lebih hemat dari taxi dengan alamat
tujuan ke Jonggol. Sembari menunggu abang gojek, Ia berdandan rapi dengan
rambut terurai.
“Makasih neng” kata abang gojek yang
menerima uang 15 ribu dari Surti.
“Sama-sama bang” Surti tersenyum.
Surti tepat berada di depan rumah
Agus. Ia tercenga, dan berkata dalam hatinya “Wah gede banget rumahnya,
tiba-tiba aku gak pede gini mau masuk”. Surti langsung menuju ruang dimana
terdengar musik yang keras. Surti berdiri di depan pintu “ Permisi… permisi…”,
Surti mencoba bersuara keras. Di dalamnya sudah banyak orang. Ada yang sedang
duduk, menari dan bergoyang, menyetel kaset dan ada juga yang mengobrol berpasangan. Ya itu mereka Sari,
Tuti, Joko dan Aji yang belum sempat melihatku. Lalu terlihat berpasangan duduk
di sofa.
“Wah mas Agus melihatku, tapi dia
duduk dengan siapa? Siapa perempuan itu?” batin Surti cemas tidak karuan.
Agus menengok ke arah kiri yang
sedang duduk di sofa. Aku menatap gugup.
“Surti? Sini masuk” menyapa sembari
berjalan ke arahku.
“i..i..ya mas” Surti menjawab
terbata-bata.
Melihat Surti sendiri, Tuti langsung
berjalan menemuinya, disusul dengan Sari.
“Ada apa ini Sar? Ceritakan dengan
jelas dong?” Surti bertanya gugup.
“Duduk sambil minum dulu yuk Sur”
jelas Sari.
Setelah mereka duduk, Sari, Tuti dan
Surti sepakat untuk pulang. Sari belum bercerita tentang apa yang terjadi saat
Surti belum datang ke pesta Agus. Padahal dua puluh menit lagi menuju jam
00.00. Mereka berpamitan dengan Agus. Agus melarang mereka untuk pulang. Namun
dengan cara Surti yang agak memaksa lalu diperbolehkan. Mereka lalu mencari
taksi untuk pulang. Mereka memutuskan untuk menginap di kos Sari.
“Jadi saat kamu belum dateng Sur,
Kita shock banget. Teryata mamanya Agus membawa cewek cantik dengan make up
yang menor dan dia katanya dia adalah calon istrinya.” tutur Sari. Surti
menatap Sari berkaca-kaca.
Pada hari itupun Surti tak lagi
berharap pada seseorang lelaki yang memang bukan untuknya. Surti sudah
mematikan semua pengharapan itu atas Agus. Surti tidak mau sakit atas hati
untuk kedua kalinya. Dulu Surti pernah dijodohkan dengan anak juragan desa
namun Ia ternyata meninggalkan Surti. Surti hanaya sedih untuk beberapa saja
ternyata selama ini pertemanan hanyalah pertemanan. Tidak lebih. Surti
menyadari tentang siapa dia dan darimana dia berasal. Sekarang hati Surti sudah
legowo dan kembali menata hidup untuk
menggapai impiannya.