Kamis, 25 Mei 2017

CUKUP SEKALI SAJA - Cerpen

“Telolet… telolet…telolet…”, suara handphone Surti berdering tepat pukul 23.00.
Sari yang sedang mengerjakan tugas ilmu politik pun merasa terganggu.
 “Oh my God, ada apasih Tuti menelepon malam-malam, mengganggu saja lagi ngerjain tugas juga”, gumam Surti.
“Haloo Surti, besok ke perpustakaan yuk cari referensi, daritadi aku kerjain tugas makalah ilmu politik gak nemu-nemu ide nih”, sapa Tuti dengan gaya medok dan ngomong cepetnya.
“Boleh-boleh, ajakin Sari sekalian ya, aku juga lagi nih butut ide, apalagi pas kamu nelpon, buat kaget saja huff”, balasnya.
“hehehe, sory… okedeh see you ya mwah.” Tuti menutup teleponnya dengan mesra.
***
Hari ini hari Senin, sekitar pukul 10.00, Surti, Sari dan Tuti tidak ada jadwal kuliah, menuju ke perpustakaan. Mereka adalah mahasiswa jurusan Politik tingkat I. Mereka berteman sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga sekarang. Mereka terkena gadis yang periang namun cerdas dan pintar, walaupun mereka suka klayaban sana-sini, nongkrong di warung makan sana-sini hanya demi tugas dan mengobrol.
“Syuuut… ini perpustakaan ya Mbak, bukan kafe”, salah satu petugas perpustakaan menyuruh mereka untuk diam untuk kesekian kalinya. Mereka memang sedang membaca dan mengerjakan tugas tetapi disambil dengan mengobrol. Mereka langsung tertawa pelan. Surti hendak meminjam buku, lalu menuju ke operator dan mengeluarkan kartu perpustakaan, disusul yang lain.
“Mbak, ini ada kartu perpustakaan punya mahasiswa yang tertinggal tolong balikin ya,” kata salah satu petugas perpustakaan.
“Loh.. Bu tapi kami beda tingkat, nanti susah balikinnya”, protes Surti.
“Ya tapi disitu kalian sejurusan dan disitu ada nomor yang bisa dihubungi”, kata petugas.
“Oh iya baik bu,” Surti menunduk.
***
            “tut..tut..”, suara hp Agus berdering. Ada sms ternyata dari nomor yang tidak dikenal.
            “Hai, slmt siang, ini dengan mas Agus Caraka jur Politik tkt II? Maaf sy Surti jur Politik tkt I mau mngmblkn kartu perpusta titipan dr petugas perpus tadi”, tulisan sms Surti.
            Kemudian Agus yang sedang bersantai di depan TV di rumahnya karena tidak ada jadwal kuliah langsung membalas sms Sari.
            “Iya benar, oh iya tadi saya kelupaan, ketemu di lorong depan ruang A1 ya jam 2 siang,”
            Surti tak membalas sms Agus lagi. Seperti biasa, Surti, Sari dan Tuti sepulang dari kampus selalu kumpul di kostan Sari. Mereka sedang asyik menonton film tiba-tiba jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.
            “Eh aku ada janji jam 2 siang, ayoo buruu temenin aku”, ucap Surti panik.
            Mereka langsung menuju kampus dengan sepeda motornya, karena Surti tidak membawa motor maka ia menebengi Sari. Surti termasuk gadis yang sederhana dari Desa, lugu nan cantik. Siapa sih yang tidak mengenalnya. Sedangkan Sari anak orang kaya dengan barang-barangnya yang bermerek. Berbeda dengan Tuti yang anaknya juragan di desa namun penampilannya biasa saja.

Sesampai dikampus, mereka langsung menuju ke lorong depan ruang A1, tempat Surti dan Agus janjian. Disana rupanya sudah ada Agus dan teman-temannya, Joko dan Aji. Surti tertegun kaget lalu menyapa mereka dan membuka tasnya untuk mengambil kartu perpustakaan milik Agus dan mengembalikannya. Sari dan Tuti melihatnya sambil senyum-senyum tipis.
“Makasih ya Surti, eh kalian habis ini mau kemana?”, tanya Agus.
            “Sama-sama, ini mau makan mas,” balas Surti tersenyum manis. “Kalo gitu bareng aja yuk, makan di warung Bu Dewi didepan situ. Eh kenalin ini Joko dan Aji,” balas Agus.
            Surti melirik Sari dan Tuti. Sari dan Tuti berkedip. “Boleh mas,” balas Sari.
Siapa si yang gak kenal dengan mas Agus, terkenal dengan kharismanya namun tampangnya biasa saja. Batin Surti mengatakan. Ternyata Agus lah yang selama ini dia sukai, ya walaupun hanya sekedar ngefans saja karena dia kapten basket.
Kemudian mereka jalan ke tempat makan sambil berkenalan dan bercerita satu sama lain. Mereka makan dan mengobrol lama di warung Bu Dewi sampai-sampai hampir diusir karena warung akan tutup jam 5 sore.
***
Sudah 3 bulan mereka dekat. Antara Agus dan Surti, Joko dan Tuti begitupun Sari dan Aji. Mereka sering belajar bersama, nongkrong di warung, hingga hangout foto bersama. Agus memang anak orang kaya, selain basket dia juga nemiliki hobi memfoto. Hal ini sangat berbeda dengan Surti yang dari Desa kuliah di Kota, punya handphone saja hanya bisa buat sms. Namun Surti sangat beryukur teman-temannya mau menerima Ia apa adanya dan Ia bisa mudah bergaul dengan siapapun. Surti juga selalu sadar bahwa ia menyukai seorang pria kaya, yaitu mas Agus. Kedekatannya dengan Agus kini semakin dekat.
Saat makan bareng di warung Bu Dewi, favorit mereka Agus menyeletuk “kok kamu sukanya makan sama lauk tempe mulu sih Sur,”. “hehe iya mas, enak murah dan bergizi,” balas Surti. Agus meringis tipis, “enak juga tapi gak tiap hari juga kali. Surti.. Surti..” seraya Agus menggelengkan kepalanya “Ohya, datang ya gengs besok di perayaan hari ulang tahunku tanggal 31 Desember sekalian ngerayain tahun baru bareng, kita bakal pesta asik gitu”.
“Jam berapa bro? siap deh asalkan siapin lagu yang asoy buat goyangin badan hahaha” Joko bertanya.
“Dateng aja jam setengah 8 apa jam 8 kek, pestanya mulai jam 9 bro. Wah kalo lagu itu siap deh, kemarin udah aku minta sama event organizernya buat bikin yang special. Ohya, untuk dresscodenya bebas ya terserah kalian, dandan yang rapi yang cantik sama jangan lupa Joko Aji mandi tuh hahaha” Agus tertawa seraya diikuti yang lain.
“Wah parah bro buka aib nih hahahah” Aji membalasnya.
***
            31 Desember 2016 pukul 20.00
Aji dan Joko sudah berada di rumah Agus. Sementara Sari dan Tuti masih menyiapkan pakaian yang akan mereka kenakan. Berbeda dengan Surti, Ia masih berada di kafe tempatnya bekerja part time. Surti memang baru mulai bekerja beberapa hari ini dan kedua temannya, Sari dan Tuti sudah mengetahuinya.
            “Telolet… telolet… telolet…” hp Surti berdering, ada panggilan dari Sari.
            “Halo Sar, aku kayaknya nyusul ya sekitar jam 10 soalnya ini masih di kafe belum bisa ditinggal” kata Surti.
            “Yaelah Sur, kabarin daritadi napa. Ntar kamu naik taxi aja biar aman. Hati-hati yaa kita tunggu” balas Sari.
            “Oke deh Sari Tuti, see you!” Surti menutup teleponnya.
            Surti pulang dari kafe pukul 9 malam, Ia panik karena belum menyiapkan baju yang akan Ia pakai ke pestanya Agus. Akhirnya Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu dan melihat gaun pendek lengan panjang dengan motif belang-belang, sepertinya cocok untuk pesta. Surti bernafas lega. Lalu Ia memesan gojek karena lebih hemat dari taxi dengan alamat tujuan ke Jonggol. Sembari menunggu abang gojek, Ia berdandan rapi dengan rambut terurai.
            “Makasih neng” kata abang gojek yang menerima uang 15 ribu dari Surti.
            “Sama-sama bang” Surti tersenyum.
            Surti tepat berada di depan rumah Agus. Ia tercenga, dan berkata dalam hatinya “Wah gede banget rumahnya, tiba-tiba aku gak pede gini mau masuk”. Surti langsung menuju ruang dimana terdengar musik yang keras. Surti berdiri di depan pintu “ Permisi… permisi…”, Surti mencoba bersuara keras. Di dalamnya sudah banyak orang. Ada yang sedang duduk, menari dan bergoyang, menyetel kaset dan ada juga yang  mengobrol berpasangan. Ya itu mereka Sari, Tuti, Joko dan Aji yang belum sempat melihatku. Lalu terlihat berpasangan duduk di sofa.
            “Wah mas Agus melihatku, tapi dia duduk dengan siapa? Siapa perempuan itu?” batin Surti cemas tidak karuan.
            Agus menengok ke arah kiri yang sedang duduk di sofa. Aku menatap gugup.
            “Surti? Sini masuk” menyapa sembari berjalan ke arahku.
            “i..i..ya mas” Surti menjawab terbata-bata.
Melihat Surti sendiri, Tuti langsung berjalan menemuinya, disusul dengan Sari.
            “Ada apa ini Sar? Ceritakan dengan jelas dong?” Surti bertanya gugup.
            “Duduk sambil minum dulu yuk Sur” jelas Sari.
            Setelah mereka duduk, Sari, Tuti dan Surti sepakat untuk pulang. Sari belum bercerita tentang apa yang terjadi saat Surti belum datang ke pesta Agus. Padahal dua puluh menit lagi menuju jam 00.00. Mereka berpamitan dengan Agus. Agus melarang mereka untuk pulang. Namun dengan cara Surti yang agak memaksa lalu diperbolehkan. Mereka lalu mencari taksi untuk pulang. Mereka memutuskan untuk menginap di kos Sari.
            “Jadi saat kamu belum dateng Sur, Kita shock banget. Teryata mamanya Agus membawa cewek cantik dengan make up yang menor dan dia katanya dia adalah calon istrinya.” tutur Sari. Surti menatap Sari berkaca-kaca.

            Pada hari itupun Surti tak lagi berharap pada seseorang lelaki yang memang bukan untuknya. Surti sudah mematikan semua pengharapan itu atas Agus. Surti tidak mau sakit atas hati untuk kedua kalinya. Dulu Surti pernah dijodohkan dengan anak juragan desa namun Ia ternyata meninggalkan Surti. Surti hanaya sedih untuk beberapa saja ternyata selama ini pertemanan hanyalah pertemanan. Tidak lebih. Surti menyadari tentang siapa dia dan darimana dia berasal. Sekarang hati Surti sudah legowo dan kembali menata hidup  untuk menggapai impiannya.

0 comments:

Posting Komentar

 

Random Thinker Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review