Kamis, 25 Juli 2019

Unforgettable Experience: Pemilihan Kakang Mbekayu Duta Wisata Banjarnegara

0 comments

Hi, welcome back!

Setiap pencarian jati diri dalam proses hidup, seseorang pasti keluar dari zona nyaman untuk mencoba hal dan tantangan baru

Masing-masing daerah di Indonesia baik itu Provinsi maupun Kabupaten pasti memiliki sepasang duta wisata yang mewakili daerahnya sebagai perpanjangan tangan Pemerintah yang dinaungi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di daerahnya. Secara singkat, apasih duta wisata itu? Jadi, duta wisata adalah ikon pariwisata sebuah daerah yag terpilih melalui proses seleksi guna perpanjangan tangan Pemerintah dalam upaya mempromosikan dan memperkenalkan potensi pariwisata di daerahnya. Eh, panjang juga ya penjelasannya hehe.

Di Kabupaten Banjarnegara tempat saya tinggal, duta wisata disebut dengan Kakang Mbekayu. Kakang diambil dari sebutan untuk pria dan Mbekayu sebutan untuk wanita, dimana merupakan simbol dari budaya bahasa dan dialek masyarakat Banjarnegara (dialek panginyongan).
Berbicara tentang audisi ini, saya seorang fresh graduate dari jurusan Biologi yang umurnya sudah agak mepet degan batas yang ditentukan mencoba iseng-iseng untuk mendaftar. Sempat terpikirkan, kenapa saya tidak mencobanya dari dulu saat masih SMA ya? Yaah, memang selalu ada penyesalan di akhir, namun saya kira dulu untuk mencoba saja butuh banyak merelakan sesuatu untuk dikorbankan, karena dulu mikir pelajaran saja sudah cukup menguras otak dan energi dibikinnya. Memang saat bersekolah di SMA, saya tidak banyak mengikuti kegiatan di luar sekolah, hehe. Semoga ini bisa jadi pelajaran buat temen-temen semua, agar tidak menyesal untuk mencoba hal-hal baru! ^^

Eits, tadi intermezzo sebentar yaa.

Sekitar empat tahun saya habiskan waktu di perantauan untuk melanjutkan proses belajar di salah satu Universitas di Semarang. Selama kuliah, saya bertemu banyak teman-teman dengan latar belakang, passion, hobby dan prestasi yang berbeda-beda. Salah satu teman saya ini berasal dari Rembang, lalu pernah main bareng dan dia mengajak temannya yang berasal dari Rembang pula. Nah teman dari temanku ini adalah duta wisata Kabupaten Rembang. Singkat cerita, kita mengobrol, sharing, dan diskusi bersama hingga teman-temanku ini mendorongku agar mencoba pemilihan duta wisata di daerah tempat tinggalku, Banjarnegara.

Saya memang tertarik dengan audisi semacam ini, namun tidak pernah terbesit niatan saya untuk mengikuti kompetisi ini. Selain terdorong karena teman-teman tadi, saya juga suka ngomong, tertarik mencoba hal baru dan sebagai wujud cinta akan Banjarnegara, yaaa aapa salahnya untuk mencoba? Niat saya disini memang untuk mencari pengalaman bagaimana sih audisi duta pariwisata itu, bagaimana ketika saya dihadapkan dengan pertanyaan dari dewan juri yang profesional? Apakah saya berani untuk maju seperti peserta lainnya yang mayoritas berasal dari Sekolah Mengah Atas dan atau Kejuruan, yang notabenenya adalah jauh lebih muda dari saya.

Pembukaan pendaftaran sudah dari hampir dua bulan yang lalu semenjak saya mengetahui informasi tersebut. Benar-benar H-10 hari saya baru saja mengetahuinya dan itupun tanpa sengaja saya menemukannya. Bisa dikatakan ini terlalu mendadak bagi saya yang masih sangat newbie di dunia per-duta wisata-an. Saya pun langsung membaca persyaratan dan lain-lainnya. Syaratnya cukup mudah, domisili Banjarnegara, mampu berbahasa jawa, indonesia dan inggris dan berwawasan luas tentang kepariwisataan. Mungkin, kalau hal terakhir ini bisa dipelajari, namun butuh waktu yang cukup, apalagi mengenai pariwisata di Banjarnegara. Wah saya ini memang jarang sekali jalan-jalan ke daerahnya sendiri. Untuk tinggi badan minimal 160 cm untuk wanita, ya aku cukup percaya diri kalau ini.

Setelah aku memenuhi segala persyaratan pendaftaran, saya mengumpulkan berkasnya ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, tepatnya berada di samping Kebun Binatang Serulingmas Banjarnegara.  Tiga hari kemudian saya mengikuti Ikamura Class yaitu talkshow tentang tips and trick menjadi duta wisata yang diselenggarakan oleh Ikatan Paguyuban Kakang Mbekayu Banjarnegara. Saya menggali ilmu sebanyak-banyaknya disitu dan saling kenal mengenal dengan Kakang Mbekayu tahun sebelumnya serta teman-teman pendaftar lain. Seminggu kemudian, waktu audisi telah tiba. Pukul 07.30 WIB diharuskan sudah datang di lokasi. Untuk audisi ada dua pos, yaitu pos interview dengan 3 juri dari orang-orang Dinas, dan pos diskusi dengan Kakang-kakang senior. Di pertengahan waktu menunggu antara interview dan diskusi, ada tes tertulis yaitu menulis essai tentang salah satu tempat wisata di Banjarnegara yang mencakup Sapta Pesona dan 4A konsep pariwisata.


Interview
Sebelum audisi, panitia sudah menyampaikan bahwa saat interview harus menampilkan bakat. Saya mempersiapkan akan menampilkan bakat menyanyi diertai dengan improvisasi menari. Namun saat interview, saya tidak diminta menampilkan bakat, begitupun ada beberapa teman saya yang seperti saya, ada juga yang menampilkan bakatnya. Pertanyannya cukup simpel, mungkin tidak ada lima menit saya berdiri di ruangan tersebut merasakan grogi dan tegangnya menghadapi beliau juri-juri profesional ini. “Apa motivasi anda, apa yang sudah dipersiapkan, dan apa harapan kedepan untuk duta wisata ini?” intinya pertanyaannya semacam itu. Mudah dimengerti memang. Namun, pertanyaan hanyalah pertanyaan. Untuk menjawabnya saja butuh kepercayaan diri rasa niat yang ekstra. Mau kamu sudah siapin jawaban-jawaban itu dengan baik, kamu akan merasa ngeblank ketika mersa nervous di hadapan para juri. Pertanyaan terakhir saya diminta untuk menejelaskan tempat wisata: Curug Pitu, di dekat rumahku, dengan bahasa inggris. Oh My God! Aku sudah merencanakannya tentang hal apa saja yang akan saya sampaikan. Tapi ternyata……….. betul-betul ngeblank. Kosakata yang sudah saya rekam di otak saya semuanya luluh lantah pergi berlari entah kemana. Yang diakibatkan tatapan dewan juri ini juga sangat menegangkan.
Ya sudah, waktu berlalu.

Diskusi
Setelah menunggu antri diskusi yang sangat panjang, akhirnya saya dipanggil untuk diskusi setelah maghrib. Yaa betul-betul sampai malem. Saya bersama 5 teman yang lain memasuki ruang diskusi dan bertemu dengan kakang-kakang senior, Kita diminta perkenalan menggunakan bahasa inggris, kemudian diberi beberapa studi kasus dan kita diminta untuk memberikan pendapat. Untuk sesi ini, peserta disuruh duduk berhadapan dengan juri-juri yang masih muda, yaa saya benar-benar menikmatinya dan bisa mikir kira-kira nanti bagaimana saya akan menjawab pertanyaan mereka. Kurang lebih sesi ini menghabisan waktu 25 menit.

Akhirnya, dua hari kemudian pengumuman tiba, dan saya tidak lolos 15 besar mbekayu. Saya bersyukur dan mengevaluasi diri. Saya juga sampai menghubungi salah satu juri, menanyakan kekurangan saya di bagian apa sehingga bisa untuk pembelajaran ke depannya. Saya mendapatkan pengalaman dan ilmu yang bermanfaat serta mendapatkan teman-teman baru pastinya. Yang pasti, tidak ada hal yang sia-sia dalam kesempatan ini, begitupun tidak rugi untuk mencoba. 
Saya percaya, “saya akan menjadi apa yang saya usahakan”. 
Kilas balik sejenak mengingat bahwa saya mendaftar duta wisata ini sangatlah mendadak (dengan niat saya mencari pengalaman baru, dan tidak berharap untuk lolos) dan baru belajar materi h-1 audisi.

Semoga cerita ini dapat mengisnpirasi kalian wahai pembaca, bahwa “sebuah penyesalan adalah ketika kamu tidak pernah mencoba, segala hal sudah digariskan untuk berhasil dan gagal. Jika berhasil tetap membumi, jika gagal lakukan evaluasi dan kibarkan bendera semangat juang lebih tinggi lagi”. Pepatah mengatakan mundur selangkah ke belakang untuk mengambil seribu langkah ke depan.

And finally, reminder for my self: totalitaslah dalam berjuang, karena disana takkan ada kesempatan yang sama! ^^

See you, bye!
Alvita

Jumat, 19 Juli 2019

0 comments
Sedih? iya.
Menyerah? tentu tidak.

Rabu, 29 Agustus 2018

CONTOH POSTER YANG DIBUAT DENGAN EDITOR ONLINE CANVA

0 comments
HALO HALOOOOO!
Wellcome back to my blog, eaaaa
Long time no see, no post in ma blog.
Lama sekaliii akun ini unactive yang dikarenakan pemiliknya sibuk gak sempet nulis, ciyelah. Sibuk duniawi coy! :')

If u know sebenernya banyak banget yang ingin aku tulis aku tumpahin di blog ini, tapi gak pernah sempet buat nulis:") yaaaaa emang gak pernah nyempetin deng heheheh
Padahal ada orang yang bilang "tulislah apa yang kamu pikir, maka dengan menulis kamu akan mengingat". Benar juga sih apa yang dikata orang tersebut. Gak salah juga kalo gak nulis yang kita pikir dan its depend on our priority. Aku ngerasa nulis itu penting, apalagi untuk mengingatnya di kemudian hari.

hehe. to the point aja yaaa, kali ini aku ingin membagikan contoh-contoh pamflet atau bahan untuk dipublikasikan yang dibuat menggunakan editor online Canva.com
Sebenernya di Canva banyak design yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan misal greeting cards, invitation card, poster, cover etc. Nah, siapapun bisa menggunakannya. dengan akses gratis dan mudah untuk digunakan

Langsung aja cekidot bisa dilihat contohnya!


Gambar 1. Poster memperingati hari kemerdekaan ke-71


Gambar 2. Hari air sedunia



Gambar 3. Pamflet coming soon bukber


Gmbar 4. Hari Cinta Puspa dan Satwa


Gambar 6. Hari Lingkungan Hidup sedunia


Gambar 6. Happy shopping!



Gambar 7. Hari Sejuta pohon sedunia

Sabtu, 26 Agustus 2017

PUISI : Hidup

2 comments
Ada yang bilang
Hidup itu harus berjuang
Ketika kau berjalan sendirian
Kau berangan-angan
Menyusuri hutan-hutan
Menemui pasir jalanan
Menuju sungai beraliran
Melewati puncak hijau dedaunan

Syahdu...
Tiba-tiba aku mengadu
Terjatuh diriku di atas batu
Pilu, tangisan haruku
Tubuhku kaku dengan luka membiru

Aku tidak tahu

Lalu ku bangkit dan berdiri
Mencoba menegakkan ragaku kembali
Dengan bantuan sang Illahi
Aku bisa berdiri
ya, aku kembali berdiri.

Ku lanjutkan perjalanan ini
Perjuangan tiada henti
Setiap kau terjatuh
Ingatlah kepada sang Illahi
Karena hanya kepada-Nya kita kembali

Kamis, 25 Mei 2017

CUKUP SEKALI SAJA - Cerpen

0 comments
“Telolet… telolet…telolet…”, suara handphone Surti berdering tepat pukul 23.00.
Sari yang sedang mengerjakan tugas ilmu politik pun merasa terganggu.
 “Oh my God, ada apasih Tuti menelepon malam-malam, mengganggu saja lagi ngerjain tugas juga”, gumam Surti.
“Haloo Surti, besok ke perpustakaan yuk cari referensi, daritadi aku kerjain tugas makalah ilmu politik gak nemu-nemu ide nih”, sapa Tuti dengan gaya medok dan ngomong cepetnya.
“Boleh-boleh, ajakin Sari sekalian ya, aku juga lagi nih butut ide, apalagi pas kamu nelpon, buat kaget saja huff”, balasnya.
“hehehe, sory… okedeh see you ya mwah.” Tuti menutup teleponnya dengan mesra.
***
Hari ini hari Senin, sekitar pukul 10.00, Surti, Sari dan Tuti tidak ada jadwal kuliah, menuju ke perpustakaan. Mereka adalah mahasiswa jurusan Politik tingkat I. Mereka berteman sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga sekarang. Mereka terkena gadis yang periang namun cerdas dan pintar, walaupun mereka suka klayaban sana-sini, nongkrong di warung makan sana-sini hanya demi tugas dan mengobrol.
“Syuuut… ini perpustakaan ya Mbak, bukan kafe”, salah satu petugas perpustakaan menyuruh mereka untuk diam untuk kesekian kalinya. Mereka memang sedang membaca dan mengerjakan tugas tetapi disambil dengan mengobrol. Mereka langsung tertawa pelan. Surti hendak meminjam buku, lalu menuju ke operator dan mengeluarkan kartu perpustakaan, disusul yang lain.
“Mbak, ini ada kartu perpustakaan punya mahasiswa yang tertinggal tolong balikin ya,” kata salah satu petugas perpustakaan.
“Loh.. Bu tapi kami beda tingkat, nanti susah balikinnya”, protes Surti.
“Ya tapi disitu kalian sejurusan dan disitu ada nomor yang bisa dihubungi”, kata petugas.
“Oh iya baik bu,” Surti menunduk.
***
            “tut..tut..”, suara hp Agus berdering. Ada sms ternyata dari nomor yang tidak dikenal.
            “Hai, slmt siang, ini dengan mas Agus Caraka jur Politik tkt II? Maaf sy Surti jur Politik tkt I mau mngmblkn kartu perpusta titipan dr petugas perpus tadi”, tulisan sms Surti.
            Kemudian Agus yang sedang bersantai di depan TV di rumahnya karena tidak ada jadwal kuliah langsung membalas sms Sari.
            “Iya benar, oh iya tadi saya kelupaan, ketemu di lorong depan ruang A1 ya jam 2 siang,”
            Surti tak membalas sms Agus lagi. Seperti biasa, Surti, Sari dan Tuti sepulang dari kampus selalu kumpul di kostan Sari. Mereka sedang asyik menonton film tiba-tiba jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.
            “Eh aku ada janji jam 2 siang, ayoo buruu temenin aku”, ucap Surti panik.
            Mereka langsung menuju kampus dengan sepeda motornya, karena Surti tidak membawa motor maka ia menebengi Sari. Surti termasuk gadis yang sederhana dari Desa, lugu nan cantik. Siapa sih yang tidak mengenalnya. Sedangkan Sari anak orang kaya dengan barang-barangnya yang bermerek. Berbeda dengan Tuti yang anaknya juragan di desa namun penampilannya biasa saja.

Sesampai dikampus, mereka langsung menuju ke lorong depan ruang A1, tempat Surti dan Agus janjian. Disana rupanya sudah ada Agus dan teman-temannya, Joko dan Aji. Surti tertegun kaget lalu menyapa mereka dan membuka tasnya untuk mengambil kartu perpustakaan milik Agus dan mengembalikannya. Sari dan Tuti melihatnya sambil senyum-senyum tipis.
“Makasih ya Surti, eh kalian habis ini mau kemana?”, tanya Agus.
            “Sama-sama, ini mau makan mas,” balas Surti tersenyum manis. “Kalo gitu bareng aja yuk, makan di warung Bu Dewi didepan situ. Eh kenalin ini Joko dan Aji,” balas Agus.
            Surti melirik Sari dan Tuti. Sari dan Tuti berkedip. “Boleh mas,” balas Sari.
Siapa si yang gak kenal dengan mas Agus, terkenal dengan kharismanya namun tampangnya biasa saja. Batin Surti mengatakan. Ternyata Agus lah yang selama ini dia sukai, ya walaupun hanya sekedar ngefans saja karena dia kapten basket.
Kemudian mereka jalan ke tempat makan sambil berkenalan dan bercerita satu sama lain. Mereka makan dan mengobrol lama di warung Bu Dewi sampai-sampai hampir diusir karena warung akan tutup jam 5 sore.
***
Sudah 3 bulan mereka dekat. Antara Agus dan Surti, Joko dan Tuti begitupun Sari dan Aji. Mereka sering belajar bersama, nongkrong di warung, hingga hangout foto bersama. Agus memang anak orang kaya, selain basket dia juga nemiliki hobi memfoto. Hal ini sangat berbeda dengan Surti yang dari Desa kuliah di Kota, punya handphone saja hanya bisa buat sms. Namun Surti sangat beryukur teman-temannya mau menerima Ia apa adanya dan Ia bisa mudah bergaul dengan siapapun. Surti juga selalu sadar bahwa ia menyukai seorang pria kaya, yaitu mas Agus. Kedekatannya dengan Agus kini semakin dekat.
Saat makan bareng di warung Bu Dewi, favorit mereka Agus menyeletuk “kok kamu sukanya makan sama lauk tempe mulu sih Sur,”. “hehe iya mas, enak murah dan bergizi,” balas Surti. Agus meringis tipis, “enak juga tapi gak tiap hari juga kali. Surti.. Surti..” seraya Agus menggelengkan kepalanya “Ohya, datang ya gengs besok di perayaan hari ulang tahunku tanggal 31 Desember sekalian ngerayain tahun baru bareng, kita bakal pesta asik gitu”.
“Jam berapa bro? siap deh asalkan siapin lagu yang asoy buat goyangin badan hahaha” Joko bertanya.
“Dateng aja jam setengah 8 apa jam 8 kek, pestanya mulai jam 9 bro. Wah kalo lagu itu siap deh, kemarin udah aku minta sama event organizernya buat bikin yang special. Ohya, untuk dresscodenya bebas ya terserah kalian, dandan yang rapi yang cantik sama jangan lupa Joko Aji mandi tuh hahaha” Agus tertawa seraya diikuti yang lain.
“Wah parah bro buka aib nih hahahah” Aji membalasnya.
***
            31 Desember 2016 pukul 20.00
Aji dan Joko sudah berada di rumah Agus. Sementara Sari dan Tuti masih menyiapkan pakaian yang akan mereka kenakan. Berbeda dengan Surti, Ia masih berada di kafe tempatnya bekerja part time. Surti memang baru mulai bekerja beberapa hari ini dan kedua temannya, Sari dan Tuti sudah mengetahuinya.
            “Telolet… telolet… telolet…” hp Surti berdering, ada panggilan dari Sari.
            “Halo Sar, aku kayaknya nyusul ya sekitar jam 10 soalnya ini masih di kafe belum bisa ditinggal” kata Surti.
            “Yaelah Sur, kabarin daritadi napa. Ntar kamu naik taxi aja biar aman. Hati-hati yaa kita tunggu” balas Sari.
            “Oke deh Sari Tuti, see you!” Surti menutup teleponnya.
            Surti pulang dari kafe pukul 9 malam, Ia panik karena belum menyiapkan baju yang akan Ia pakai ke pestanya Agus. Akhirnya Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu dan melihat gaun pendek lengan panjang dengan motif belang-belang, sepertinya cocok untuk pesta. Surti bernafas lega. Lalu Ia memesan gojek karena lebih hemat dari taxi dengan alamat tujuan ke Jonggol. Sembari menunggu abang gojek, Ia berdandan rapi dengan rambut terurai.
            “Makasih neng” kata abang gojek yang menerima uang 15 ribu dari Surti.
            “Sama-sama bang” Surti tersenyum.
            Surti tepat berada di depan rumah Agus. Ia tercenga, dan berkata dalam hatinya “Wah gede banget rumahnya, tiba-tiba aku gak pede gini mau masuk”. Surti langsung menuju ruang dimana terdengar musik yang keras. Surti berdiri di depan pintu “ Permisi… permisi…”, Surti mencoba bersuara keras. Di dalamnya sudah banyak orang. Ada yang sedang duduk, menari dan bergoyang, menyetel kaset dan ada juga yang  mengobrol berpasangan. Ya itu mereka Sari, Tuti, Joko dan Aji yang belum sempat melihatku. Lalu terlihat berpasangan duduk di sofa.
            “Wah mas Agus melihatku, tapi dia duduk dengan siapa? Siapa perempuan itu?” batin Surti cemas tidak karuan.
            Agus menengok ke arah kiri yang sedang duduk di sofa. Aku menatap gugup.
            “Surti? Sini masuk” menyapa sembari berjalan ke arahku.
            “i..i..ya mas” Surti menjawab terbata-bata.
Melihat Surti sendiri, Tuti langsung berjalan menemuinya, disusul dengan Sari.
            “Ada apa ini Sar? Ceritakan dengan jelas dong?” Surti bertanya gugup.
            “Duduk sambil minum dulu yuk Sur” jelas Sari.
            Setelah mereka duduk, Sari, Tuti dan Surti sepakat untuk pulang. Sari belum bercerita tentang apa yang terjadi saat Surti belum datang ke pesta Agus. Padahal dua puluh menit lagi menuju jam 00.00. Mereka berpamitan dengan Agus. Agus melarang mereka untuk pulang. Namun dengan cara Surti yang agak memaksa lalu diperbolehkan. Mereka lalu mencari taksi untuk pulang. Mereka memutuskan untuk menginap di kos Sari.
            “Jadi saat kamu belum dateng Sur, Kita shock banget. Teryata mamanya Agus membawa cewek cantik dengan make up yang menor dan dia katanya dia adalah calon istrinya.” tutur Sari. Surti menatap Sari berkaca-kaca.

            Pada hari itupun Surti tak lagi berharap pada seseorang lelaki yang memang bukan untuknya. Surti sudah mematikan semua pengharapan itu atas Agus. Surti tidak mau sakit atas hati untuk kedua kalinya. Dulu Surti pernah dijodohkan dengan anak juragan desa namun Ia ternyata meninggalkan Surti. Surti hanaya sedih untuk beberapa saja ternyata selama ini pertemanan hanyalah pertemanan. Tidak lebih. Surti menyadari tentang siapa dia dan darimana dia berasal. Sekarang hati Surti sudah legowo dan kembali menata hidup  untuk menggapai impiannya.

Sabtu, 06 Desember 2014

GENERASI BIOLOGI PEDULI LINGKUNGAN

0 comments


Haloha! This is our new blog  xD
Kenalin dulu yaaa kami dari Biologi 2014. Kami terdiri dari 2 spesies, yang pertama Novi Alvita asli dari Banjarnegara nih lahir tanggal 26 November 1996, dan yang kedua Anitya Daradita lahir di Bekasi, 1 April 1996 dan berasal dari Tegal :3
Blog kami yang baru ini adalah bertema Generasi Biologi PEDULI LINGKUNGAN. Iya peduli untuk melestarikan lingkungan, kami bangga banget loh jadi anak biologi yang peduli sama lingkungan sekitar. Lingkungan aja dipeduliin apalagi kamuu :3
So, simak dan scroll kebawah terus ya kalo kamu pengen tau lebih artikel kami tentang apa ;)

Go Green
            Beberapa tahun terakhir pencemaran lingkungan di Indonesia semakin tak terkendalikan, baik pencemaran udara, pencemaran air maupun pencemaran tanah. Pencemaran lingkungan ini bisa kita temui dimana dan kapan saja. Wah rupanya sudah tidak asing lagi ya untuk kita XD that’s fact! Misalnya saja di lingkungan kampus, lihat aja di depan ruang kuliah, apakah kita sudah mempunyai tempat pembuangan yang baik? Lalu di depan musholla, begitu banyaknya sampah-sampah plastik yang menggunung di tempat sampah dan dibiarkan begitu saja sehingga menyebabkan bau dan merusak pandangan. Itu baru kita temui hanya di lingkungan kampus, bagaimana kalo kita keluar dari lingkungan kampus? Mungkin banyak sekali pencemaran-pencemaran yang lain seperti asap kendaraan bermotor, limbah pembuangan industri maupun sampah-sampah plastik rumah tangga yang tidak bisa diuraikan dalam tanah. Lalu apa sih peran kita sebagai mahasiswa biologi terhadap pelestarian lingkungan? Simak dan scroll ke bawah terus ya kalo kamu pengen tahu :3 jangan bosen-bosen baca tulisan kita :3
Pernah denger kan apa itu go green? Yap that’s right. Istilah go green sudah tidak asing lagi bagi kita. Go green atau yang lebih dikenal dengan gerakan penghijauan merupakan suatu usaha menyelamatkan bumi melalui gerakan penghijauan untuk menjaga kelestarian bumi. Sebenarnya gerakan go green tidak hanya terfokus pada penanaman pohon saja, bisa kita lakukan hal lain seperti mengurangi kendaraan bermotor, menggunakan kertas daur ulang dan meminimalisir penggunaan plastik. 


 

Random Thinker Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review