Kamis, 25 Juli 2019

Unforgettable Experience: Pemilihan Kakang Mbekayu Duta Wisata Banjarnegara

0 comments

Hi, welcome back!

Setiap pencarian jati diri dalam proses hidup, seseorang pasti keluar dari zona nyaman untuk mencoba hal dan tantangan baru

Masing-masing daerah di Indonesia baik itu Provinsi maupun Kabupaten pasti memiliki sepasang duta wisata yang mewakili daerahnya sebagai perpanjangan tangan Pemerintah yang dinaungi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di daerahnya. Secara singkat, apasih duta wisata itu? Jadi, duta wisata adalah ikon pariwisata sebuah daerah yag terpilih melalui proses seleksi guna perpanjangan tangan Pemerintah dalam upaya mempromosikan dan memperkenalkan potensi pariwisata di daerahnya. Eh, panjang juga ya penjelasannya hehe.

Di Kabupaten Banjarnegara tempat saya tinggal, duta wisata disebut dengan Kakang Mbekayu. Kakang diambil dari sebutan untuk pria dan Mbekayu sebutan untuk wanita, dimana merupakan simbol dari budaya bahasa dan dialek masyarakat Banjarnegara (dialek panginyongan).
Berbicara tentang audisi ini, saya seorang fresh graduate dari jurusan Biologi yang umurnya sudah agak mepet degan batas yang ditentukan mencoba iseng-iseng untuk mendaftar. Sempat terpikirkan, kenapa saya tidak mencobanya dari dulu saat masih SMA ya? Yaah, memang selalu ada penyesalan di akhir, namun saya kira dulu untuk mencoba saja butuh banyak merelakan sesuatu untuk dikorbankan, karena dulu mikir pelajaran saja sudah cukup menguras otak dan energi dibikinnya. Memang saat bersekolah di SMA, saya tidak banyak mengikuti kegiatan di luar sekolah, hehe. Semoga ini bisa jadi pelajaran buat temen-temen semua, agar tidak menyesal untuk mencoba hal-hal baru! ^^

Eits, tadi intermezzo sebentar yaa.

Sekitar empat tahun saya habiskan waktu di perantauan untuk melanjutkan proses belajar di salah satu Universitas di Semarang. Selama kuliah, saya bertemu banyak teman-teman dengan latar belakang, passion, hobby dan prestasi yang berbeda-beda. Salah satu teman saya ini berasal dari Rembang, lalu pernah main bareng dan dia mengajak temannya yang berasal dari Rembang pula. Nah teman dari temanku ini adalah duta wisata Kabupaten Rembang. Singkat cerita, kita mengobrol, sharing, dan diskusi bersama hingga teman-temanku ini mendorongku agar mencoba pemilihan duta wisata di daerah tempat tinggalku, Banjarnegara.

Saya memang tertarik dengan audisi semacam ini, namun tidak pernah terbesit niatan saya untuk mengikuti kompetisi ini. Selain terdorong karena teman-teman tadi, saya juga suka ngomong, tertarik mencoba hal baru dan sebagai wujud cinta akan Banjarnegara, yaaa aapa salahnya untuk mencoba? Niat saya disini memang untuk mencari pengalaman bagaimana sih audisi duta pariwisata itu, bagaimana ketika saya dihadapkan dengan pertanyaan dari dewan juri yang profesional? Apakah saya berani untuk maju seperti peserta lainnya yang mayoritas berasal dari Sekolah Mengah Atas dan atau Kejuruan, yang notabenenya adalah jauh lebih muda dari saya.

Pembukaan pendaftaran sudah dari hampir dua bulan yang lalu semenjak saya mengetahui informasi tersebut. Benar-benar H-10 hari saya baru saja mengetahuinya dan itupun tanpa sengaja saya menemukannya. Bisa dikatakan ini terlalu mendadak bagi saya yang masih sangat newbie di dunia per-duta wisata-an. Saya pun langsung membaca persyaratan dan lain-lainnya. Syaratnya cukup mudah, domisili Banjarnegara, mampu berbahasa jawa, indonesia dan inggris dan berwawasan luas tentang kepariwisataan. Mungkin, kalau hal terakhir ini bisa dipelajari, namun butuh waktu yang cukup, apalagi mengenai pariwisata di Banjarnegara. Wah saya ini memang jarang sekali jalan-jalan ke daerahnya sendiri. Untuk tinggi badan minimal 160 cm untuk wanita, ya aku cukup percaya diri kalau ini.

Setelah aku memenuhi segala persyaratan pendaftaran, saya mengumpulkan berkasnya ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, tepatnya berada di samping Kebun Binatang Serulingmas Banjarnegara.  Tiga hari kemudian saya mengikuti Ikamura Class yaitu talkshow tentang tips and trick menjadi duta wisata yang diselenggarakan oleh Ikatan Paguyuban Kakang Mbekayu Banjarnegara. Saya menggali ilmu sebanyak-banyaknya disitu dan saling kenal mengenal dengan Kakang Mbekayu tahun sebelumnya serta teman-teman pendaftar lain. Seminggu kemudian, waktu audisi telah tiba. Pukul 07.30 WIB diharuskan sudah datang di lokasi. Untuk audisi ada dua pos, yaitu pos interview dengan 3 juri dari orang-orang Dinas, dan pos diskusi dengan Kakang-kakang senior. Di pertengahan waktu menunggu antara interview dan diskusi, ada tes tertulis yaitu menulis essai tentang salah satu tempat wisata di Banjarnegara yang mencakup Sapta Pesona dan 4A konsep pariwisata.


Interview
Sebelum audisi, panitia sudah menyampaikan bahwa saat interview harus menampilkan bakat. Saya mempersiapkan akan menampilkan bakat menyanyi diertai dengan improvisasi menari. Namun saat interview, saya tidak diminta menampilkan bakat, begitupun ada beberapa teman saya yang seperti saya, ada juga yang menampilkan bakatnya. Pertanyannya cukup simpel, mungkin tidak ada lima menit saya berdiri di ruangan tersebut merasakan grogi dan tegangnya menghadapi beliau juri-juri profesional ini. “Apa motivasi anda, apa yang sudah dipersiapkan, dan apa harapan kedepan untuk duta wisata ini?” intinya pertanyaannya semacam itu. Mudah dimengerti memang. Namun, pertanyaan hanyalah pertanyaan. Untuk menjawabnya saja butuh kepercayaan diri rasa niat yang ekstra. Mau kamu sudah siapin jawaban-jawaban itu dengan baik, kamu akan merasa ngeblank ketika mersa nervous di hadapan para juri. Pertanyaan terakhir saya diminta untuk menejelaskan tempat wisata: Curug Pitu, di dekat rumahku, dengan bahasa inggris. Oh My God! Aku sudah merencanakannya tentang hal apa saja yang akan saya sampaikan. Tapi ternyata……….. betul-betul ngeblank. Kosakata yang sudah saya rekam di otak saya semuanya luluh lantah pergi berlari entah kemana. Yang diakibatkan tatapan dewan juri ini juga sangat menegangkan.
Ya sudah, waktu berlalu.

Diskusi
Setelah menunggu antri diskusi yang sangat panjang, akhirnya saya dipanggil untuk diskusi setelah maghrib. Yaa betul-betul sampai malem. Saya bersama 5 teman yang lain memasuki ruang diskusi dan bertemu dengan kakang-kakang senior, Kita diminta perkenalan menggunakan bahasa inggris, kemudian diberi beberapa studi kasus dan kita diminta untuk memberikan pendapat. Untuk sesi ini, peserta disuruh duduk berhadapan dengan juri-juri yang masih muda, yaa saya benar-benar menikmatinya dan bisa mikir kira-kira nanti bagaimana saya akan menjawab pertanyaan mereka. Kurang lebih sesi ini menghabisan waktu 25 menit.

Akhirnya, dua hari kemudian pengumuman tiba, dan saya tidak lolos 15 besar mbekayu. Saya bersyukur dan mengevaluasi diri. Saya juga sampai menghubungi salah satu juri, menanyakan kekurangan saya di bagian apa sehingga bisa untuk pembelajaran ke depannya. Saya mendapatkan pengalaman dan ilmu yang bermanfaat serta mendapatkan teman-teman baru pastinya. Yang pasti, tidak ada hal yang sia-sia dalam kesempatan ini, begitupun tidak rugi untuk mencoba. 
Saya percaya, “saya akan menjadi apa yang saya usahakan”. 
Kilas balik sejenak mengingat bahwa saya mendaftar duta wisata ini sangatlah mendadak (dengan niat saya mencari pengalaman baru, dan tidak berharap untuk lolos) dan baru belajar materi h-1 audisi.

Semoga cerita ini dapat mengisnpirasi kalian wahai pembaca, bahwa “sebuah penyesalan adalah ketika kamu tidak pernah mencoba, segala hal sudah digariskan untuk berhasil dan gagal. Jika berhasil tetap membumi, jika gagal lakukan evaluasi dan kibarkan bendera semangat juang lebih tinggi lagi”. Pepatah mengatakan mundur selangkah ke belakang untuk mengambil seribu langkah ke depan.

And finally, reminder for my self: totalitaslah dalam berjuang, karena disana takkan ada kesempatan yang sama! ^^

See you, bye!
Alvita

Jumat, 19 Juli 2019

0 comments
Sedih? iya.
Menyerah? tentu tidak.

 

Random Thinker Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review